Jejak Mas Guru
Jejak Mas Guru
  • Beranda
  • Berita
  • Portofolio
    • Vlog
    • MPI
      • Fungsi Kuadrat
      • Koordinat Cartesius
      • Askar Cartesius
    • Guru Penggerak
  • Merdeka Mengajar
  • Belajar.id
  • Rumah Belajar
    • Fitur Utama
      • Kelas Maya
      • Sumber Belajar
      • Lab Maya
      • Bank Soal
    • Sosial Media
      • Facebook
      • Instagram
      • Youtube

 Selasa, 20 Agustus 2013

                Tidak sedikit dari para calon sarjana mendidik bangsa rela begadang hanya untuk bisa segera mengetahui takdirnya. Menjadi bagian dari program pengabdian yang menawarkan pengalaman dan kesempatan untuk berbakti dan mengamalkan apa yang kita peroleh di bangku kuliah untuk bangsa sebelum kita menanyakan apa yang akan kita terima dari negara ini atau hanya menjadi bagian dari sarjana-sarjana yang mungkin masih belum mendapatkan kesempatan itu karena Tuhan telah menyiapkan skenario menarik lain bagi mereka.
                Mentari muncul, ayam sudah berkokok tapi apa yang di tunggu tak kunjung muncul. Pengumuman yang dinanti malah serasa enggan untuk menampakkan dirinya hingga pukul 8 pagi muncul kabar Undhiksa sudah mengeluarkan pengumuman sementara LPTK yang lain masih belum tampak memampangkan apa yang kami tunggu sejak jam 12 malam. Melihat pengumuman yang dipampang Undiksa bikin ciut nyali, karena dari pengumuman itu hanya terpampang kurang lebih 125 sarjana saja yang beruntung sekaligus dengan daerah penempatannya selama satu tahun kedepan.
                Semakin sering mencari info pengumuman, semakin ciut saja nyali ini. Lelah berpikir, alhasil tidur adalah solusi terbaik untuk menghilangkan rasa stres ini, Hingga hp berbunyi memberikan isyarat bahwa ada pesan yang masuk. Tidak banyak isi pesan itu, hanya info pemberitahuan kalau beberapa LPTK sudah mengumumkan sarjana terbaiknya yang akan mewakili lembaganya untuk program ini. Laptop dan modem segera saja menjadi sahabat untuk larut dalam dunia maya yang menawarkan berjuta informasi mengenai pengumuman itu, hingga yang ditunggu-tunggu muncul. Tertera di pengumuman itu, nama yang sangat familiar, nama yang diberikan oleh orang tua ketika sang anak baru saja terlahir di dunia ini. 201317242. MOKHAMAD SYAIFUDIN. Aku lolos menjadi bagian program ini. Program yang kurang lebih 2 tahun belakang mengusik pikiranku untuk bisa mengabdi kepada bangsa ini dengan apa yang aku punya. Tapi, lokasi penempatan tidak ada. Ini berarti aku harus bersabar lagi untuk mengetahui lokasi penempatanku.
*******
                Sudah 10 hari, kami berlatih dan ditempa mental di Pangkalan AL Malang, namun kami belum tahu dimana kami akan ditempatkan dan selama 10 hari itu pula kami tidak sadar dan tidak sempat untuk memikirkan dimana kami akan ditempatkan yang terpikir hanyalah bagaimana kami bisa melewati kegiatan yang sudah ditata dengan rapinya seolah sudah memahami PBB hingga hanya sedikit celah bagi kami untuk memikirkan hal-hal lain.
                Jum`at, 13 September 2013
                Muncul kabar, bahwa tepat setelah ibadah sholat jum`at akan diumumkan lokasi penempatan pengabdian para sarjana mendidik bangsa yang menjadi keluarga besar di “Learning of University”. Banyak ekspresi yang muncul saat itu. Banyak ekspresi-ekspresi yang tak diduga keluar dari raut muka mereka. Senang. Mungkin karena akan segera mengetahui daerah tugasnya. Takut. Mungkin karena khawatir mendapat lokasi yang tidak sesuai dengan yang diinginkan, walaupun kami sudah kontrak hitam di atas putih untuk siap ditempatkan dimana saja tapi tetap saja manusiawi rasa itu muncul. Sedih. Mungkin karena teringat waktu perpisahan akan semakin dekat. Bangga. Mungkin karena apa yang sudah dicita-citakan akan segera tercapai. Yang jelas kesemuanya itu berada pada bingkai perasaan Galau, yang berdampak pada nafsu makan yang kembali turun setelah dengan susah payah membangkitkannya. Tapi semua itu tetap tidak mampu mengurangi rasa ingin tahu yang tumbuh dalam diri.
                Pohon-pohon ditepi lapangan Lanal-lah yang menjadi saksi bisu atas ekspresi-ekspresi para sarjana-sarjana ini ketika melihat pengumuman penempatan. “Pengumuman sudah menanti kalian”. Kata-kata itu yang teringat diawal detik-detik pengumuman itu. Memang benar kalimat itu, kamilah yang harus berlarian ke setiap pohon untuk mencari nama kita terpampang dalam kloter mana, kloter tempat penugasan selama 1 tahun, kloter yang nantinya akan menjadi teman, sahabat bahkan keluarga kita selama melaksanakan tugas.
                Ekspresi yang muncul setelah pengumuman, lebih heboh lagi. Tertawa. Mungkin karena sesuai dengan apa yang diinginkan atau paling tidak mungkin bukan ditempatkan ditempat yang tidak diinginkan. Menangis. Mungkin karena sudah terbayang yang tidak-tidak mengenai lokasi penempatannya. Bingung. Mungkin karena masih belum juga menemukan namanya diantara deretan nama-nama yang tertera di pohon sementara yang lain sudah standby dan bersiap-siap dengan kloter barunya. Yang jelas, apapun ekspresi yang muncul saat itu hanya ada satu kegiatan yang pasti dilakukan oleh semua orang yakni telepon keluarga.
                Tidak hanya kami, sarjana yang akan diberangkatkan ke tempat tugas tapi keluarga kami juga mengalami hal yang sama karena tidak sedikit dari mereka yang belum familiar dan paham mengenai nama-nama kabupaten yang diutarakan putra-putri mereka. Dari ujung seberang telepon pasti muncul pertanyaan yang sama. “Dimana itu?”. “Aman?”. “Provinsi mana?”. “disebelah mana?”. Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan bergelayut yang mengantarkan kami pada kegiatan kebiasaan para sarjana. Tanya mbah Google. Tanya mengenai lokasi, keadaan geografis, sarana dan prasarananya dan hal-hal lain yang mungkin saja kami butuhkan ketika berada di daerah rantau.
                Pohon Palem, di ujung pojok lapangan, arah jalur ke Masjid Lanal Malang, ditempat itu namaku terpampang bersama 38 orang yang lain. Kab. Kepulauan Sitaro. Melihat nama kabupatennya, langsung muncul bayangan akan ditempatkan di daerah pesisir yang punya banyak gugusan pulau, tapi tak apalah setidaknya tidak ditempatkan di Papua yang terkenal endemik Malaria dan paling suka dengan tubuh-tubuh kurus macam aku. Tapi hal lain, dengan anggota pletonku yang lain. Hendra. Mulai dari awal sebelum pengumuman sampai pengumuman penempatan di Kepulauan Sitaro, yang muncul cuman tampang muka yang kucel dan fisik yang drop karena stress dengan lokasi penempatan.
                Tapi bagaimanapun eskpresi yang muncul ketika sebelum dan sesudah pengumuman, tekad kami sudah bulat. Menjadi sarjana mendidik bangsa. Menjadi jembatan dengan pemerintah menuju daerah terdepan untuk menggapai mereka yang terluar dan menjangkau mimpi-mimpi yang tertinggal. Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia.

 Dari sekian banyak kegiatan materi yang diberikan, ada satu kegiatan yang paling dinanti oleh setiap peserta prakondisi. Tidak lain dan tidak bukan adalah pengarahan mengenai gambaran real dari lokasi penempatan pengabdian.

                Manggarai, Nunukan, Malinau, Sitaro, Talaud, Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Maybrat, Sorong Selatan......
                Salah satu dari Sembilan kabupaten itulah yang akan menjadi lokasi penimbaan ilmu yang sebenarnya tentang kehidupan, tentang gambaran Indonesia yang sesungguhnya. Gambaran Indonesia yang tidak hanya bisa ditonton lewat televisi, lewat program-program menyentuh hati nurani. Melainkan gambaran Indonesia yang akan kita lihat dengan mata telanjang tanpa ada sedikitpun yang mungkin tertutupi dari sudut-sudut negeri paling depan, luar dan mungkin masih tertinggal dengan kemegahan pusat ibu kota yang hingar bingar dengan kehidupannya hingga tidak sempat untuk menoleh atau hanya bertegur sapa dengan mereka.
*******
                Manggarai...
                Salah satu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur yang menjadi sasaran dari program magic ini, punya banyak cerita sesuai dengan pengalaman yang diceritakan langsung oleh “dedengkot” SM3T angkatan pertama yang kebetulan telah mengenyam dan membaur dengan kehidupan warga disana selama setahun.
                Daerah yang sulit akan sumber air, yang mengharuskan putra-putri generasi bangsa untuk bersedia setiap hari membawa jerigen-jerigen air untuk mencukupi kebutuhan konsumsi air keluarga dan di sekolah. Kaki-kaki mereka yang kecil harus bersiap mengayunkan langkahnya lebih jauh yang tidak jarang mereka harus berjalan berkilo-kilo meter melalui perbukitan yang curam hanya untuk mengenyam bangku pendidikan. Ya, itulah Manggarai dengan ceritanya sendiri.
                Nunukan, Malinau.....
                Kalau melihat kondisi letak geografis kedua kabupaten ini, tidak salah jika Kabupaten di Kalimantan Utara ini juga menjadi sasaran program ini. Kabupaten yang menjadi etalase negara bagi Indonesia untuk Malaysia, kabupaten yang sempat menjadi perebutan kedua negara ini memang butuh sentuhan-sentuhan dari pemerintah pusat untuk bisa bermetamorfosa menjadi kabupaten yang bisa diandalkan dan membawa perbandingan yang tidak terlalu jauh dengan negara serumpun itu-katanya-.
                Sungai dan perahu menjadi jalur dan alat transportasi andalan wilayah ini. Begitu juga yang akan dilakukan oleh para sarjana yang mendapat kehormatan melakukan pengabdian di daerah tersebut untuk satu tahun kedepan. Tidak jarang, lokasi yang harus mereka tuju menuntut mereka untuk siap mengarungi jeram-jeram terjal yang siap menghadang dan siap untuk menciutkan nyali. Bahkan untuk sampai ketempat tersebut, terkadang mereka harus siap untuk bermalam di “hotel alami” yang sudah disediakan Tuhan untuk umat-Nya, hotel dengan keasrian dan kenaturalannya. Hotel dengan permadani rumput asli, dan beratapkan indahnya lukisan tuhan diatas langit. HUTAN. Ya, mungkin hanya itu hotel yang bisa menjadi tempat membaringkan penat untuk sementara sebelum harus melanjutkan ke lokasi. Atau, malah mereka harus memanggul perahu yang mereka tumpangi karena ketidakmampuan raja sungai itu untuk melawan jeram-jeram yang telah terhampar disepanjang sungai. Malinau, Nunukan kabupaten kaya air dan sungai laksana lautan.
*******
                Sitaro, Talaud....
                Kalo pernah denger salah satu jingle dari produk mie instan, mungkin kita pernah mendengar kabupaten Talaud disebut.
                “Dari Sabang sampai Merauke
Dari Talaud sampai pulau rote”
                Kedua kabupaten ini merupakan kabupaten kepulauan yang terletak di ujung pulau Sulawesi yang langsung berbatasan dengan negara Filipina. Sesuai dengan kondisi geografisnya, transportasi darat tidak begitu dominan berlaku disini. Ketingting dan Perahu lah yang menjadi andalan dan primadona, yang membedakan dengan Nunukan dan Malinau kalau disana harus mengarungi sungai yang memiliki karakteristik seperti laut, disini kita benar-benar hidup diatas laut.
                Kabupaten Kepulauan. Artinya kabupaten ini memiliki daratan yang dibatasi dengan lautan yang menjadi teman dan penghambat mereka. Menjadi teman, karena lautanlah yang menyediakan kehidupan bagi mereka. Menyediakan berbagai macam biota didalamnya yang bisa diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kebutuhan hidup. Menjadi penghambat, ketika cuaca tidak lagi bersahabat sehingga membatasi gerak dan aktifitas warganya termasuk untuk mencari penghidupan.
*******
Pegunungan Bintang dan Jayawijaya....
                Dua sosok hitam bertubuh tambun sudah siap duduk didepan ratusan pasang mata yang menatap penuh harap untuk bisa mendapatkan cerita dan gambaran mengenai kedua kabupaten ini. Dua kepala dinas dari kabupaten ini bersedia hadir untuk melihat langsung persiapan para sarjana mendidik bangsa yang mungkin akan ditempatkan di wilayah mereka.
                Jayawijaya, kabupaten yang mungkin sudah setara dengan Surabaya jika dibandingkan lokasinya di Papua ini sudah terbilang maju. Hal itu tidak lain, karena kabupaten ini merupakan kabupaten induk yang sudah terpecah-pecah dan dimekarkan menjadi beberapa kabupaten-kabupaten yang siap berjalan beriringan dengan induknya.
                Ada pertanyaan menggelitik ketika momen ini.
“Apa di Papua ada Beras?”.
Pertanyaan sederhana yang mungkin tidak perlu dipertanyakan ketika kita berada di Pulau Jawa. Maklum, kami warga pulau Jawa sudah terbiasa dengan makanan pokok negara ini bahkan ada ungkapan bagi orang jawa.
“Kalau belum makan nasi, itu berarti kita belum sarapan”.
                Mungkin itulah yang menjadi dasar pertanyaan itu bisa terlontar dari mulut salah satu peserta yang mungkin saja itu mewakili dari ratusan peserta yang mungkin tidak punya keberanian untuk mengungkapkan pertanyaan sederhana itu.
                Dari uraian yang disampaikan kepala dinas pendidikan jayawijaya, keadaan disana tidak ubahlah seperti kondisi kota-kota yang ada di jawa, minimarket sudah tersedia, beras dengan berbagai kualitas dan merkpun juga ada tergantung dengan seberapa tebal isi dompet kita.
                Lain jayawijaya, lain pula pegunungan bintang. Kabupaten hasil pemekaran dari jayawijaya ini menyuguhkan pemandangan yang luar biasa dengan cerita tersendiri. Bagaimana tidak? Untuk bisa sampai ke lokasi para peserta harus melakukan perjalanan yang panjang dan memakan waktu yang lama. Dengan kondisi geografis yang didominasi pegunungan, sehingga antar distrikpun terletak di lain gunung, alhasil untuk bisa mencapai satu distrik ke distrik yang lain hanya “besi terbanglah” yang dapat menjangkau.
                Pernyataan itu, sedikit menggelitik pikiranku. Apabila disana alat transportasi yang digunakan adalah pesawat terbang, berarti ada banyak bandara disana hal ini berarti kondisi keadaan di Pegunungan Bintang pastilah sudah maju. Namun setelah video kondisi disana ditayangkan, semua jauh dari apa yang dibayangkan di awal. Bandara yang dibayangkan dengan aspal yang mulus yang siap merangkul erat roda setiap pesawat yang akan mendarat tidak ada, yang ada hanya tanah lapang yang dibuat rata dan itupun memiliki lokasi diatas puncak gunung. Namun terlepas dari itu semua, Pegunungan Bintang menyuguhkan pemandangan tentang keasrian dan begitu terpeliharanya hutan tropis yang ada di Indonesia yang merupakan salah satu paru-paru penunjang keseimbangan dunia.
*******
                 Maybrat, Sorong Selatan...
                Tidak ada yang bisa diceritakan dan dibagikan pengalaman untuk kedua lokasi penempatan ini. Hal ini dikarenakan, kedua lokasi penempatan ini merupakan lokasi baru bagi LPTK penyelenggara program ini dimana aku mendaftarkan diri untuk menjadi bagian keluarga besarnya –Universitas Negeri Malang–. Yang jelas, kedua kabupaten ini berada di Provinsi Papua Barat dan merupakan pemekaran dari wilayah provinsi Papua. Berarti kedua kabupaten ini berada di provinsi baru yang artinya kedua kabupaten ini juga merupakan kabupaten baru yang masih butuh banyak sentuhan baik itu pembangunan di bidang fisik maupun dibidang pendidikan dan pelayanan kesehatan.

                 Mungkin ini bukan pertama kali, aku mengalami kondisi dimana aku hanya seorang diri dalam satu lingkungan baru yang menuntut aku untuk segera bisa beradaptasi agar bisa segera diterima di lingkungan tersebut. Namun, kali ini sedikit berbeda. Aku harus bertemu dengan orang-orang itu saja selama prakondisi tanpa bisa berhubungan dengan dunia luar, yang biasanya bisa dijadikan selingan ketika kita merasa tidak cocok dengan lingkungan yang ada. Sayangnya perasaan canggung itu sama sekali tidak muncul.

                Ketika awal kegiatan, kami langsung harus membentuk barisan yang nantinya menentukan siapa teman kita, siapa saudara kita selama mengikuti kegiatan ini. Pleton 9. Ya, aku tergabung dalam kelompok ini. Kelompok berjumlah 28 orang yang didominasi oleh perempuan, yang hanya menyisakan 9 orang arjuna dengan bermacam-macam karakter, yang pada akhirnya terasa seperti pengganti keluarga disini.

                Dengan postur tubuh yang tinggi tapi tidak dengan tubuh yang atletis, secara otomotis menempatkanku pada posisi terdepan dalam arti yang sebenarnya untuk membetuk barisan pleton. Hal inilah yang mungkin menjadi salah satu andil terbesar sehingga aku kurang mengenal anggota dalam satu kelompokku di awal-awal kegiatan.
                Semua kegiatan kita lakukan bersama, terutama untuk kegiatan makan. Setiap hari tiga kali kami selalu duduk berdampingan di meja makan, sehingga secara tidak langsung kami mengetahui selera dan porsi makan tiap orang di sebelah kita. Mulai dari yang termasuk golongan omnivora, golongan pemilik pantangan alias alergi makanan tertentu, sampai golongan pengekspor beras ke negera treng sebelah  yang berarti pasti ada negara treng yang siap menerima import nasi. Kami hafal semua itu dengan sendirinya. Tanpa harus dituntut untuk mengahafalnya laksana anak TK yang harus diajari mengeja terlebih dahulu untuk bisa mengenal kata-kata.

                Tidak hanya untuk masalah makanan saja kami mengenal satu sama lain. Untuk urusan yang lain seperti tabiat dan tipikal anggota kamipun sedikit banyak kita mengenal. Mulai dari yang super duper ngocol yang terkenal dengan kata-kata khasnya yang ditiru oleh anggota lain (Aduuh deek, dibaca dengan logat madura), yang berani gila ketika menghayati yel-yel hiburan- sampai yang pendiam bak es batu, bahkan untuk mendengar suaranya kita harus menunggu sampai hari-hari akhir kegiatan. Tapi semua itu pasti dimbangi dengan para bidadari-bidadari yang selalu ada disamping kami dengan seribu tipe, mulai yang cerewet, yang melankolis, yang rame, yang diam-diam memperhatikan keadaan sekitar, yang aktif selama kegiatan serta yang tipe-tipe standart.

                Pleton 9, MENYESUAIKAN...
                Jargon itu secara tiba-tiba muncul ketika setiap aba-aba kegiatan untuk diakhir, sang komandan pleton –hendra- selalu bilang : “teman-teman, langsung menyesuaikan ya???”. Alhasil yang menyesuaikan tidak hanya aba-aba saja, melainkan juga perasaan-perasaan romansa anak muda juga ikut menyesuaikan.
                Tidak ada yang salah tentang rasa cinta, karena hal itu memang manusiawi. Prinsip itu yang selalu aku pegang, yang penting kita bisa memposisikan kita dalam keadaan apa kita sekarang.

Apapun semua itu, yang jelas pleton 9 telah menjadi obat penghibur rasa kangen kepada keluarga dan orang-orang terkasih selama harus berada di kandang macan.

"Ikuti Aturan, Jangan Ikuti Pikiran"

                Kalimat motivasi yang syarat penuh makna, yang memberikan semangat dan kunci dalam menjalankan aktifitas “karantina” ini. Kalimat yang  keluar dari mulut seorang bapak yang sudah kami anggap sebagai teman kami bahkan menjadi mesin pemompa semangat dalam menjalankan aktifitas-aktifitas yang luar biasa bagi kami. LETNAN SUGENG. Ya, beliau jadi sosok sentral bagi kami selama mengikuti kegiatan di Lanal. Sosok yang secara tidak sadar kita cari ketika tidak kunjung muncul batang hidungnya. Sosok menjadi tempat melepas candaan serta menjadi contoh panutan bagi kami dalam mempersiapkan mental untuk ke medan pengabdian.

                Dengan background keluarga yang hampir sama dengan saya, keluarga yang tidak pernah lepas dari sosok Ibu yang terus berjuang dengan segala jerih payahnya untuk kami –letnan sugeng dan saya- yang membuat kami berpikir untuk bisa memberikan sedikit kebanggaan yang dapat dikenang dan diceritakan oleh beliau kelak. Secara tidak sadar, sosok ini telah menghipnotis saya, membangkitkan semangat ketika nyala kobar itu mulai padam.
                “Percaya apa yang telah kamu pilih dan Tuhan pilihkan, pasti ada tujuannya”
                “Ketika ibu sudah Ridho, apapun akan lebih mudah ...”
                Tak jarang ketika beliau memberikan motivasi dan berbagi pengalaman hidupnya, membuat dada ini terasa sesak sehingga memberikan efek pada air mata seakan-akan berduyun-duyun meronta untuk dikeluarkan. Cerita mengenai pengalaman hidupnya ketika harus melewati masa-masa putus asa dalam usaha meniti karir, memberikan dampak yang luar biasa terhadap cara pandang saya tentang kehidupan ini. Tanpa harus berteriak, tanpa harus memerintah, hanya dengan ucapan lembut, beliau mampu membawa kami ke alam yang jauh mungkin terkubur dalam hidup kami, alam rasa syukur atas keberadaan sosok wanita-wanita tangguh yang selalu bersiap disamping kami ketika kami akan terjatuh dalam kehidupan dan keadaan yang terpuruk.
                Selain dengan ratusan bahkan ribuan kalimat motivasi yang keluar dari mulutnya, kemampuan untuk membangkitkan semangat lewat yel-yel juga patut diacungi jempol pada sosok yang satu ini. Banyak yel-yel yang tercipta hanya dalam hitungan hari kami disini, yel-yel syarat makna, syarat pesan moral yang membuat kami merinding dalam melafalkannya.
                “Siapa Kalian ?  (Kami Putra-Putri Terbaik Bangsa)
Untuk apa kalian disini ? (Berlatih agar bermental baja)
Mengapa kalian ada disini ? (Mengabdi pada Nusa dan Bangsa)
Apa tujuan kalian ? (Mencerdaskan generasi muda)
Untuk siapa kalian berbakti ? (Indonesia)
Untuk siapa kalian mengabdi ? (Indonesia)
Sampai kapan kalian berbakti ? (selamanya)
Sampai kapan kalian mengabdi ? (selamanya)
SM3T !!! (Jaya)
SM3T !!! (Jaya)
Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia”
Dilafaldzkan dengan lantang dalam gedung yang menggema, menjadikan kalimat-kalimat diatas bak api yang siap membakar kayu-kayu kering yang haus akan siraman kehangatan motivasi. Walaupun hal itu dilakukan setiap hari dalam jumlah dan tempo yang tidak memiliki jeda lama, namun kata-kata itu memiliki sihir tersendiri.
Ini yang menjadikan beliau, menjadi sosok yang berbeda dengan anggota TNI AL yang lain. Beliau mampu berubah karakter sesuai dengan apa yang dibutuhkan para peserta prakondisi, beliau mampu menempatkan posisinya ditengah-tengah kami. Kapan kami membutuhkan gemblengan mental yang nantinya menumbuhkan rasa disiplin, kapan kami membutuhkan kobaran semangat melalui yel-yel dan motivasi magicnya, serta kapan kami membutuhkan hiburan untuk mengurangi kebosanan atas rutinitas yang tiap hari harus kami lakukan. Maklum saja selama 12 hari kegiatan, Televisi tidak pernah sama sekali menampakkan batang hidungnya didepan kami. Kami bagaikan orang yang hidup di jaman purba yang tidak mengenal dunia luar bahkan kasus kecelakaan putra Ahmad Dani yang menjadi hot news di semua stasiun televisipun kami tidak tahu. Sumber informasi yang kami terima hanyalah lewat cerita yang disampaikan oleh para anggota TNI AL. Untungnya, jari-jari kita masih bisa asyik menarik diatas tuts-tuts handphone walaupun dengan keterbatasan waktu dan keterbatasan colokan buat charger yang kita punya.
Kalo cerita soal kegiatan charger, merupakan cerita tersendiri yang sangat unik. Gimana tidak, untuk barak laki-laki (Arjuna-Red) yang diisi dengan 128 peserta hanya terdapat 2 colokan listrik yang berada di luar barak, tepatnya satu didekat kamar mandi dan satu lagi di dekat kantor seksi Penjaskesrek TNI AL. Ketika ada kesempatan untuk melakukan charging, jangan sekali-sekali terlambat, karena sudah banyak antrian HP dan laptop yang siap untuk mendapat asupan gizinya. Selama 12 hari disana, kamar mandi disana bagaikan comboran (tempat jual beli barang bekas-red). Segala merk HP dan Laptop tersedia. Mau yang kelas hitam putih sampai yang layar sentuh semua bisa ditemukan. Mulai dari laptop sampai netbook dengan berbagai merk siap menjadi hiasan kamar mandi. Tapi satu hal yang salut dari kegiatan ini, walaupun selama charging tidak sedikit, malah bisa dibilang lebih sering kegiatan ini ditinggal untuk mengikuti kegiatan yang lain, para hiasan (hp dan laptop-red) kamar mandi masih tetap setiap nangkring di tempat pertama kali mereka ditinggal para pemiliknya.
Kembali ke hiburan...
Selain dari handphone yang tidak setiap saat bisa kita gunakan, setiap harinya pasti ada momen-momen dimana kita bisa menghibur diri dengan aktifitas-aktifitas yang dilakukan oleh peserta lain, misalnya ekspresi tidur teman-teman baik itu cewek maupun cowok yang bisa dengan pulasnya mengejar mimpi-mimpi mereka ditengah-tengah kegiatan materi yang diberikan oleh para tutor, bahkan bisa dengan cueknya teman-teman yang lain mengabadikan moment seperti ini untuk bisa dijadikan koleksi mereka untuk bisa disebarkan ke dunia maya yang menjadi trend anak muda saat ini, FACEBOOK.
Tapi selain itu semua, lagu-lagu hiburan yang dilakukan dengan sejuta ekspresi oleh 288 peserta prakondisi merupakan daya tarik memikat yang tidak boleh dilepaskan untuk diabadikan, dan direkam dalam memori hardisk sebagai memori-memori terindah yang nantinya bisa kita putar ulang ketika kita sudah menjadi manusia-manusia yang berguna kelak.
TREKJING
Kepalaku ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)
Bersama SM3T ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)
Selalu riang gembira ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)
Agar aku awet muda ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)

Bahu aku ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)
Bersama SM3T ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)
Selalu riang gembira ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)
Agar aku awet muda ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)

Kaki aku ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)
Bersama SM3T ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)
Selalu riang gembira ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)
Agar aku awet muda ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)

Semuanya..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)
Bersama SM3T ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)
Selalu riang gembira ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)
Agar aku awet muda ..................... (Trek, Trek, Trekjing, Trekjing)

Dilanjut dengan cek sound plus bergaya dengan posisi siap ala TNI
Goyang, digoyang goyang ........................ (2x)
Kalau tidak digoyang, bisa-bisa sakit pinggang
Puter, diputer puter ......................... (2x)
Kalau tidak diputer bisa-bisa sakit puser
Genjot, digenjot genjot .................... (2x)
Kalau tidak digenjot, bisa-bisa sakit otot
Mari semua kita bergembira
Hilangkanlah keluh kesah yang ada
Berikut link video lagu kebanggaan kami :https://www.youtube.com/watch?v=URLFGTczudo&spfreload=10
 Lagu inilah yang menjadi andalah kami, para peserta SM3T untuk menghibur diri yang terkadang tidak jarang juga diikuti oleh para narasumber yang kebetulan mendapat kehormatan untuk menonton hiburan sederhana ala kami, generasi terbaik bangsa.

 

Ini cerita berawal dari satu kata singkatan magic, yang mampu mengubah cara pandang hidup seseorang, yang mampu membalikkan 180o kehidupan anak manusia serta memberikan gambaran sesungguhnya tentang kehidupan sebenar-benarnya kehidupan. SM3T.Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, Tertinggal. Satu program pemerintah untuk pemerataan kualitas pendidikan di seluruh pelosok negeri yang bertujuan untuk mengirim para sarjana mendidik bangsa menuju daerah terdepan, menggapai mereka yang berada di daerah terluar NKRI serta menjangkau mimpi-mimpi yang tertinggal guna mewujudkan genarasi emas Indonesia.

“Hai kau pemuda dan pemudi harapan ibu pertiwi
Mari kita raih prestasi  Bersama kita membangun negeri
Jadilah pendidik yang berdedikasi, Mengabdi ke pelosok negeri
Mendidiklah dengan setulus hati, agar tercipta generasi mandiri
            Mari kita maju bersama, mencerdaskan Indonesia
Menjadi sarjana mendidik bangsa
Menujulah yang TERDEPAN
Gapai mereka yang TERLUAR
Jangkaulah mimpi-mimpi yang TERTINGGAL
Demi terwujudnya GENERASI EMAS INDONESIA”

                4 September 2013, cerita ini dimulai.....
                Dalam keadaan masih kantuk setelah seharian sebelumnya berpamitan ke teman-teman guru serta silaturahmi kepada handai taulan untuk terakhir kalinya, aku harus segera mempersiapkan diri untuk berangkat ke Malang, lebih tepatnya Pangkalan TNI AL (-Lanal Malang)- guna mengikuti kegiatan prakondisi yang diagendakan dimulai tepat pukul 07.00 WIB.
                Berangkat tanpa sarapan terlebih dahulu, sesampai di Lanal Malang yang merupakan lokasi karantina yang disediakan oleh LPTK penyelenggara SM3T, aku harus langsung bergabung dengan teman-teman yang nantinya menjadi bagian dari cerita penuh makna ini di tengah lapangan. Setelah cukup lumayan kering untuk ukuran ikan asin, kami dimasukkan ke dalam ruang ber-AC untuk mengikuti kegiatan materi yang telah disesuaikan dengan apa yang kita butuhkan di daerah penempatan.
                Hal itu bukanlah inti dari cerita ini berawal, tepat pukul 13.30.....
                Apel makan siang....dengan kondisi perut yang sudah keroncongan, kegiatan makanlah yang sebenarnya ditunggu-tunggu tapi apa lacur semua tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tempat makan berupa treng seperti di Rumah Sakit, Nasi lumayan keras yang menggunung, Ikan dan Sayur minim rasa menjadi menu pertama cerita ini. Dengan kondisi seperti itu ditambah lagi backsound teriakan dari para prajurit TNI AL cewek yang nantinya saya sebut Trio Macan (Mona, Dian, Elok) memberikan perintah untuk menghabiskan makanan, alhasil kebebasan untuk menikmati makanan terasa terenggut. Mumpung ingat, kenapa mereka disebut Trio Macan, tidak lain karena kami berada di Lanal diibaratkan telah memasuki kandang macan, jadi tidak salah kalo kita berada di kandang macan dan ketemu sama  3 wanita yang kita sebut Trio macan (yang ngasih julukan teman-teman wanita yang merasa tertekan atas kegiatan makan)...
                Kehidupan di Lanal benar-benar berbeda 180o dengan kehidupan di rumah. Jatah istirahat yang terbatas akibat padatnya kegiatan sedikit banyak berpengaruh pada kondisi fisik para peserta. Acara pembukaan yang berjalan lancar, tidak akan berkesan tanpa ada shock terapy yang diberikan para prajurit TNI. Dengan kostum baru yang didapat, kami diharuskan untuk menikmati air pertama kali di Lanal Malang di kolam Ikan. Tidak hanya itu, sebelumnya kita sudah dapat oleh-oleh manis berupa tembakan plus perintah untuk guling-guling,merayap, tengkurap yang semakin membikin hati kita merasa ciut. Bahkan sempat terpikir, kenapa saya harus berada di sini.
                Kegiatan yang berjalan selama 12 hari ini, memberikan banyak pengalaman yang tidak mungkin bisa didapat di tempat lain.  Pengalaman yang mengajarkan kita tentang kedisiplinan, mulai dari waktu makan, tidur bahkan untuk melakukan ibadah yang harus dilakukan secara efektif dan efisien dari segi waktu, bahkan sempat mucul joke diantara teman-teman untuk berdoa. BERDOA sesuai dengan KECEPATAN masing-masing.
                Keikhlasan. Hal itu juga yang didapat dari kegiatan, keikhlasan untuk menerima apa yang kita terima termasuk makanan yang kami terima, walaupun hal ini merupakan adaptasi yang paling sulit aku lakukan. Bahkan diantara teman-teman punya pikiran, tidak usah makan juga tidak apa-apa. Tapi semua itu berangsur hilang setelah merasakan nasi yang paling Ter-Enak dalam kehidupanku, nasi pecel warung “Padang Jinggrang”. Nasi pecel dengan lauk standart yang tidak bisa didapatkan dimanapun kecuali mengikuti kegiatan ini, Nasi pecel yang dicampur dengan telur mentah lengkap dengan nyanyian mual dari para TNI membuat makanan terasa menjadi makanan yang paling enak, yang menjadikan awal adaptasi makanan bagiku.

            Tidak hanya itu, pengalaman untuk bisa tidur beralaskan aspal di tengah gelapnya malam juga bisa aku rasakan dalam kegiatan ini setelah kami diharuskan bangun dikarenakan ada kegiatan malam. Ada beberapa hal yang bisa dipetik dari kegiatan tidur beralaskan aspal ini. Pertama, aku bisa langsung terlentang menghadap langit dan hal itu sangat indah. Kegiatan yang secara tidak langsung memupuk rasa syukur yang amat sangat atas kebesaran Tuhan yang mungkin selama ini kami lupakan. Kedua, bahwa tidur beralaskan aspal ternyata lebih hangat daripada harus tidur lantai. Sisa-sisa panas siang hari yang terserap oleh aspal, menjadi penghangat alami bagi punggung kami malam itu, hingga kami merasakan tidur yang nyenyak dan pulas untuk pertama kalinya. 
    Satu lagi yang tidak kalah penting pelajaran hidup yang diterima selama kegiatan prakondisi, Kewaspadaan. Kewaspadaan disini beda tipis dengan suudzon sih sebenarnya. Setiap ada kegiatan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan adat kebiasaan, ini sudah memantik kecurigaan dalam benak kami yang berarti kami harus sudah bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi termasuk harus tidur dengan seragam lengkap plus atribut nama peserta, topi dan kaos kaki yang tetap terpasang menemani tidur untuk berjaga-jaga. Tapi apapun itu semua, hal itu dilakukan dengan tujuan membentuk karakter kami yang tangguh dalam menghadapi medan yang harus dihadapi selama satu tahun ke depan. Tapi jangan salah, rasa “ketersiksaan” itu hanya terasa 3 hari dalam masa adaptasi, selanjutnya semua terasa lebih berwarna.

Postingan Lebih Baru Beranda

Music

DH Production Indonesia · RIZKY FEBIAN - HINGGA TUA BERSAMA (OFFICIAL MUSIC)

ABOUT ME

Pribadi yang ingin terus belajar dan berkembang untuk bisa saling berbagi dan berkolaborasi

SUBSCRIBE & FOLLOW

POPULAR POSTS

  • Mari menjadi bagian Guru Penggerak Angkatan 10
  • Belajar.id, Chromebook dan Rapor Pendidikan
  • Dalengo 1 : Evaluasi Pemanfaatan Rapor Pendidikan, Akun Belajar.Id dan Chromebook Kecamatan Mananggu
  • Festival Lokal Belajar.id : Motiayo se Provinsi Gorontalo
  • LPMP dan Dikbudpora Gorontalo buka akses untuk SRB

Statistik

Diberdayakan oleh Blogger

Blog Archive

  • Oktober 202313
  • September 20231
  • Agustus 20235
  • Juli 20234
  • Juni 20231
  • Mei 20231
  • Oktober 202217
  • November 20201
  • Oktober 202012
  • September 202010
  • September 20135

Potensi Lokal

Pantai Bolihutuo

Karawo

Tari Tidi Lo O`ayabu

Pulo Cinta

Menara Limboto

Whale Shark Botubarani

Torosiaje

Pulau Diyonumo

syaifoodien

Copyright © Jejak Mas Guru. Designed by OddThemes